S I R A P A S U N D A N

Rakyat Bergerak Melawan Penindasan

Arsip untuk Desember, 2007

UMK TAHUN 2008 SEGERA DITETAPKAN

Ditulis oleh Web Admin di/pada 19, Desember 2007

Bandung,JK

Kadisnaker Jabar, Soekarto Karnen Selasa (13/11) lalu dalam keterangannya kepada JK mengungkapkan Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) untuk tahun 2008 di Jabar, ditargetkan dapat selesai tanggal 20 November 2007 mendatang.

Penetapan target waktu penetapan tersebut, sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku karena merujuk kepada ketentuan tentang penetapan UMK, selambat-lambatnya harus selesai 40 hari sebelum 1 Januari.

Sedangkan penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) sudah dilaksanakan, yang rampung 1 November 2007 yang lalu. Penetapan UMP, juga telah memenuhi prosedur karena untuk UMP dengan merujuk kepada ketentuan yang berlaku harus selesai maksimum 2 bulan sebelum 1 Januari.

Pada tahap perampungan UMK untuk tahun 2008, 16 Kota/Kabupaten di Jabar telah menyerahkan UMK ke Pemprov. Jabar. 9 Kota/Kabupaten hingga saat ini belum menyerahkan, yang diantaranya : Kota dan Kabupaten yang berada di wilayah Bandung raya, Kota dan Kabupaten Bekasi, Karawang serta Bogor.

Pemprov. Jabar, ujar Soekarto mengharapkan agar semua Kota/Kabupaten dapat menyerahkan UMK sebelum limit waktu agar Surat Keputusan Gubernur perihal UMK dapat dikeluarkan dalam 1 Surat Keputusan.

Laporan  Dari S Sutarjo

Ditulis dalam PEMBERDAYAAN | Leave a Comment »

RP 450 M DANA PILGUB JABAR

Ditulis oleh Web Admin di/pada 19, Desember 2007

Bandung,JK

Anggota Pan-Gar DPRD Jabar, Budhi Setiawan (16/11) dalam keterangannya kepada Jurnal Komunitas mengungkapkan pada proses pembahasan APBD perubahan tahun 2007, salah satu usulan yang dibahas adalah dana Pilgub. Usulan tersebut, layak untuk direspon mengingat waktu penyelenggaraan Pilgub Jabar tinggal hitungan 5 bulan lagi.

Pemprov. Jabar, dalam nota pengantar usulan APBD perubahan tahun 2007 mengajukannya sebesar Rp.250 miliar. Namun, kini sekalipun besaran dana Pilgub di APBD perubahan tahun 2007 belum definitive karena masih dalam proses pembahasan usulan dana Pilgub dalam proses pembahasan tersebut diajukan untuk dinaikkan menjadi Rp.450 miliar.

Usulan besaran dana tersebut, cukup beralasan mengingat dana yang dibutuhkan untuk Pilgub dengan asumsi 2 putaran membutuhkan dana kurang lebih Rp.600 miliar. Persediaan dana untuk Pilgub yang telah masuk ke pos dana cadangan daerah sebesar Rp.250 miliar, dengan ditambahnya dana untuk Pilgub pada APBD perubahan tahun 2007 sebesar Rp.450 miliar seluruh kebutuhan dana Pilgub dapat terpenuhi.

Implikasi atas pembahasan tersebut, jika dana Pilgub di APBD perubahan tahun 2007 diakomodir sebesar Rp.450 miliar, pendukungan dana Pilgub ditargetkan rampung sehingga pada APBD murni tahun 2008, tidak ada lagi usulan dana Pilgub.

Hasil pembahasan di Pan-Gar, usulan dana Pilgub menyerap dana  yang cukup besar. Jika besaran dana tersebut semuanya diakomodir, ada beberapa usulan program pada APBD perubahan tahun 2007 yang harus ditunda.

Budhi, menambahkan terkait atas rekomendasi dana untuk Pilgub di pihak Pan-Gar bersama TAPD Provinsi Jabar sekarang masih dalam tahap pembahasan, kepastiannya diprediksi akan selesai 19 November 2007 mendatang.

Laporan Dari Dody Permana

Ditulis dalam PEMBERDAYAAN | Leave a Comment »

BERDIRINYA KAB. TASIKMALAYA

Ditulis oleh Web Admin di/pada 19, Desember 2007

Dimulai pada abad ke VII sampai abad ke XII di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Tasikmalaya, diketahui adanya suatu bentuk Pemerintahan Kebataraan dengan pusat pemerintahannya di sekitar Galunggung, dengan kekuasaan mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan Galuh) atau dengan kata lain raja baru dianggap syah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung. Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa abad tersebut adalah sang Batara Semplakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang yang pada masa pemerintahannya mengalami perubahan bentuk dari kebataraan menjadi kerajaan.

Kerajaan ini bernama Kerajaan Galunggung yang berdiri pada tanggal 13 Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 dengan penguasa pertamanya yaitu Batari Hyang, berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di bukit Geger Hanjuang, Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Dari Sang Batari inilah mengemuka ajarannya yang dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian. Ajarannya ini masih dijadikan ajaran resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung ini bertahan sampai 6 raja berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang.

Periode selanjutnya adalah periode pemerintahan di Sukakerta dengan Ibukota di Dayeuh Tengah (sekarang termasuk dalam Kecamatan Salopa, Tasikmalaya), yang merupakan salah satu daerah bawahan dari Kerajaan Pajajaran. Penguasa pertama adalah Sri Gading Anteg yang masa hidupnya sejaman dengan Prabu Siliwangi. Dalem Sukakerta sebagai penerus tahta diperkirakan sejaman dengan Prabu Surawisesa (1521-1535 M) Raja Pajajaran yang menggantikan Prabu Siliwangi.

Pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa kedudukan Pajajaran sudah mulai terdesak oleh gerakan kerajaan Islam yang dipelopori oleh Cirebon dan Demak. Sunan Gunung Jati sejak tahun 1528 berkeliling ke seluruh wilayah tanah Sunda untuk mengajarkan Agama Islam. Ketika Pajajaran mulai lemah, daerah-daerah kekuasaannya terutama yang terletak di bagian timur berusaha melepaskan diri. Mungkin sekali Dalem Sukakerta atau Dalem Sentawoan sudah menjadi penguasa Sukakerta yang merdeka, lepas dari Pajajaran. Tidak mustahil pula kedua penguasa itu sudah masuk Islam.

Periode selanjutnya adalah pemerintahan di Sukapura yang didahului oleh masa pergolakan di wilayah Priangan yang berlangsung lebih kurang 10 tahun. Munculnya pergolakan ini sebagai akibat persaingan tiga kekuatan besar di Pulau Jawa pada awal abad XVII Masehi: Mataram, banten, dan VOC yang berkedudukan di Batavia. Wirawangsa sebagai penguasa Sukakerta kemudian diangkat menjadi Bupati daerah Sukapura, dengan gelar Wiradadaha I, sebagai hadiah dari Sultan Agung Mataram atas jasa-jasanya membasmi pemberontakan Dipati Ukur. Ibukota negeri yang awalnya di Dayeuh Tengah, kemudian dipindah ke Leuwiloa Sukaraja dan “negara” disebut “Sukapura”.

Pada masa pemerintahan R.T. Surialaga (1813-1814) ibukota Kabupaten Sukapura dipindahkan ke Tasikmalaya. Kemudian pada masa pemerintahan Wiradadaha VIII ibukota dipindahkan ke Manonjaya (1832). Perpindahan ibukota ini dengan alasan untuk memperkuat benteng-benteng pertahanan Belanda dalam menghadapi Diponegoro. Pada tanggal 1 Oktober 1901 ibukota Sukapura dipindahkan kembali ke Tasikmalaya. Latar belakang pemindahan ini cenderung berrdasarkan alasan ekonomis bagi kepentingan Belanda. Pada waktu itu daerah Galunggung yang subur menjadi penghasil kopi dan nila. Sebelum diekspor melalui Batavia terlebih dahulu dikumpulkan di suatu tempat, biasanya di ibukota daerah. Letak Manonjaya kurang memenuhi untuk dijadikan tempat pengumpulan hasil-hasil perkebunan yang ada di Galunggung.

Nama Kabupaten Sukapura pada tahun 1913 diganti namanya menjadi Kabupaten Tasikmalaya dengan R.A.A Wiratanuningrat (1908-1937) sebagai Bupatinya.

Tanggal 21 Agustus 1111 Masehi dijadikan Hari Jadi Tasikmalaya berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang dibuat sebagai tanda upacara pentasbihan atau penobatan Batari Hyang sebagai Penguasa di Galunggung.

Sumber Tasikmalaya go id

Ditulis dalam PEMBERDAYAAN | Leave a Comment »